KASUS 1_
MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA SEKOLAH DASAR
MELALUI PROGRAM MEMBACA DI KELAS
Oleh : Sarifah
Permasalahannya:
Membaca adalah hal yang sangat penting dalam memajukan setiap pribadi manusia maupun suatu bangsa. Dengan membaca, kita dapat memperluas wawasan dan mengetahui dunia. Namun sebuah persoalan membaca yang selalu mengemuka, terutama di kalangan pelajar, adalah bagaimana cara menimbulkan minat dan kebiasaan membaca. Banyak negara berkembang memiliki persoalan yang sama, yaitu kurangnya minat membaca di kalangan masyarakat
Dari pengamatan penulis di kelas ketika diberi pelajaran bahasa Indonesia khususnya membaca terlihat 50 % siswa tidak tertarik, acuh tak acuh, beberapa siswa selalu bercakap-cakap dengan teman sebangkunya, sebagian besar siswa gaduh, dan bacaan baru selesai dalam waktu yang cukup lama. Diajukan pertanyaan, semua diam, sibuk membaca kembali teks, jawaban siswa tidak mencapai sasaran. Ketika diberikan tes uraian siswa cenderung menjawab ngawur, tidak nyambung dengan yang ditanyakan.
Membaca adalah hal yang sangat penting dalam memajukan setiap pribadi manusia maupun suatu bangsa. Dengan membaca, kita dapat memperluas wawasan dan mengetahui dunia. Namun sebuah persoalan membaca yang selalu mengemuka, terutama di kalangan pelajar, adalah bagaimana cara menimbulkan minat dan kebiasaan membaca. Banyak negara berkembang memiliki persoalan yang sama, yaitu kurangnya minat membaca di kalangan masyarakat
Dari pengamatan penulis di kelas ketika diberi pelajaran bahasa Indonesia khususnya membaca terlihat 50 % siswa tidak tertarik, acuh tak acuh, beberapa siswa selalu bercakap-cakap dengan teman sebangkunya, sebagian besar siswa gaduh, dan bacaan baru selesai dalam waktu yang cukup lama. Diajukan pertanyaan, semua diam, sibuk membaca kembali teks, jawaban siswa tidak mencapai sasaran. Ketika diberikan tes uraian siswa cenderung menjawab ngawur, tidak nyambung dengan yang ditanyakan.
Faktor Penyebabnya adalah:
Keterampilan membaca untuk memahami bentuk-bentuk tertulis merupakan hal
yang mendasar dan sangat diperlukan siswa dalam kegiatan belajarnya. Kemampuan
ini tidak hanya untuk mempelajari mata pelajaran yang bersifat eksak, mata
pelajaran noneksak pun sangat memerlukannya. Mata pelajaran noneksak pada
umumnya disajikan secara ekspositoris dan panjang-panjang.
Bila siswa tidak mampu memahaminya secara baik, maka materi yang disajikan
terasa berat dan efek lebih jauh muncul perasaan bosan untuk mempelajari
materi-materi pelajaran. Minat baca siswa cenderung menurun, kegiatan
membaca tidak variatif, tidak ada tindak lanjut atau hanya asal membaca, ruang baca/ perpustakaan
terpisah dengan ruang kelas, buku yang tersedia tebal dan miskin ilustrasi.
Strategi untuk meningkatkan minat belajar siswa yaitu dengan menerapkan
program membaca di kelas. Tiga Langkah Menerapkan Program Membaca di Kelas:
Program membaca di kelas dirancang dan disesuaikan dengan Pembelajaran
Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktiftas yang dilakukan merangsang
siswa berfikir tingkat tinggi. Alat peraga yang digunakan sederhana, mudah
didapat dan dekat dengan lingkungan anak. Adapun bagaimana program dijalankan,
dibawah ini secara rinci penulis sajikan secara urut.(manajemen kelas).
1. Tahap I Mengenalkan buku.
Pada kegiatan ini siswa diajak
mendiskusikan tentang prosedur perawatan buku. Kegiatan awal yang
bisa melibatkan siswa ketika
sekolah menerima atau membeli buku baru adalah iventarisasi,
memberi sampul, membangun tata tertib, memecahkan masalah yang
berkaitan dengan pelanggaran tata tertib, mempromosikan buku, melakukan survey
awal minat membaca siswa, memulai membaca ringan dengan berpasangan dan mencoba
meminjam buku bacaan dengan menulis buku pinjaman. (pengajaran langsung yang
berpusat pada guru)
2. Tahap II Menggunakan buku–buku bacaan untuk diintegrasikan
paga Kegiatan Pembelajaran dan Kegiatan Pembiasaan di Sekolah.
a.) Menggunakan buku – buku bacaan sebagai referensi dan penunjang materi
pada kegiatan belajar mengajar
Pada kegiatan ini guru bersama siswa
mengklasifikasi jenis buku – buku bacaan berdasarkan kelompok mata pelajaran
diantarannya kelompok agama dan budhi pekerti, kelompok pengetahuan alam,
kelompok sosial dan seni budaya, kelompok bahasa dan kelompok matematika.
Setelah selesai mengelompokkan kegiatan
selanjutnya adalah menggunakan buku–buku tersebut untuk referensi pembelajaran
dan menjadi materi pembahasan dalam diskusi–diskusi siswa selama proses
kegiatan belajar mengajar. Siswa bisa menggunakan buku – buku sesuai dengan
selera namun tetap pada kelompok mata pelajaran tertentu sesuai jadwal.
Agar kegiatan ini dapat membawa siswa dalam situasi belajar maka
pembelajaran dirancang menggunakan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan. Perangkat pembelajaran harus dipersiapkan secara rinci,
lengkap, murah, dekat dengan liongkungan dan menantang imajinasi siswa. Supaya
bisa diukur keberhasilannya, setiap pembelajaran harus mengahsilkan produk
belajar, meskipun tidak berupa nilai.
Implementasi pembelajaran dilaksanakan menggunakan skenario yang membuat
siswa memncapai tingkat kognisi tertinggi yaitu tingkat menciptakan sejalan
dengan teori belajat Taxonomi Bloom. Kognisi tingkatan tertinggi dalam kegiatan
membaca adalah ketika siswa berhasil menciptakan bentuk atau sesuatu yang dapat
ditunjukkan sebagai hasil karya tertinggi waktu selesai pembelajaran.
b.) Menggunakan buku – buku
bacaan untuk kegiatan pembiasaan di sekolah.
Kegiatan membaca bisa dibuat menjadi agenda rutin sekolah contohnya membaca hening
berkesinambungan ( Sustained Silent Reading). Kegiatan ini
bisa dilakukn satu atau dua kali dalam satu minggu. Waktu yang bisa
dimanfaatkan misalnya setelah upacara bendera hari Senin atau setelah melakukan
kegiatan senam pagi di sekolah. Waktu yang dibutuhkan 10 – 15 menit.
Pelaksanaannya semua guru, kepala sekolah karyawan dan siswa melakukan kegiayan
membaca bersama. Kegiatan ini orang tua siswa juga diminta untuk membangun
kegiatan membaca dirumah. Jadwal kegiatan, jenis-jenis kegiatan yang diminta.
Kegiatan pembiasaan yang lain adalah terciptanya budaya piket mengelola
perpustakaan mini didalam kelas. Kegiatan ini meliputi pelayanan kepada teman
yang pinjam buku, pencatatan buku–buku administrasi perpustakaan, ketertiban
menata buku–buku dan bertanggungjawab terhadap masalah – masalah tentang
pengelolaan perpustakaan.
3. Tahap III Menciptakan
kegiatan membaca yang dapat meningkatkan kreatifitas siswa.
Membaca akan membosankan jika siswa tidak diberi tantangan, membaca juga
akan lebih hidup jika selesai membaca siswa dapat menyimpulkan dan mewujudkan
dari apa yang sudah dibaca. Untuk itu perlu diciptakan kegiatan membaca yang
merangsang tumbuhnya ide–ide siswa. Beberapa point yang harus di
ingat adalah tujuan pengadaan buku di dalam kelas adalah untuk memberikan akses
kepada siswa agar dapat membaca buku dengan mudah. Tentu saja hal ini
banyak tantangannya. Sehingga sangat penting untuk selalu mengacu pada tata
tertib penggunaan buku yang telah di bahas sebelumnya.
Kegiatan selanjutnya adalah melibatkan siswa untuk mengelola perpustakaan
mini di dalam kelas. Kegiatan ini melibuti, inventarisasi buku, catatan
peminjaman dan jurnal membaca harian. Yang tidak kalah penting adalah kegiatan
piket kerja dalam mengelola perpustakaan.
Untuk lebih menguatkan budaya baca bagi siswa perlu kiranya melibatkan
orang tua. Kegiatan tersebut bisa berupa menciptakan budaya baca di
rumah, mengadakan bazar buku, pameran buku, lomba – lomba yang berkaitan dengan
program membaca.
Hasil yang dicapai dari penerapan program membaca di kelas
Dari hasil Penerapan program
membaca di kelas kita dapat mengetahui dampak positif dalam meningkatkan
minat membaca dan hasil belajar. Dari strategi-strategi di atas siswa dapat meningkatkan
minat membacanya dan dapat mengembangkan apa saja yang di dapat dari hasil
membacanya tersebut.
Mengatasi
Anak Pasif, Pendiam dan Sulit Bergaul
Oleh:
sarifah
Permasalahannya:
Diantara kita mungkin ada yang mempunyai
anak yang pasif, yang biasanya cenderung diam dan sulit bergaul dengan teman
baik di sekolah atau di tempat baru.
Di salahsatu kelas,
seorang anak yang jarang sekali terlihat main bareng, bercanda, atau
lari-larian dengan teman lainya.
Sesekali ia hanya tersenyum ketika melihat temannya yang sedang asyik
main. “Boleh ikut main lho kak…” kata guru yang pada saat itu berada di
dekatnya. Anak itu hanya diam tidak menjawab. Begitu juga di kelas, ia jarang
sekali bicara, hanya sesekali menjawab jika bu guru bertanya kepadanya, itupun
dengan suara yang pelan dan seperti ragu-ragu.
Dalam waktu satu
semester tidak banyak perubahan yang terlihat pada anak ini, namun ibu guru tidak putus asa mencari tahu mengapa
anak itu selalu diam jarang sekali bicara dan tidak mau main bareng dengan
teman lainnya. Wajar seperti layaknya anak-anak yang lainnya.
Ibu guru selalu
berusaha mencari cara bagaimana agar anak ini bisa seperti anak lainnya, yang
bisa main bersama, bercanda, tertawa dan sebagainya. Ya kita tidak bisa
pungkiri bahwa memang setiap anak itu berbeda, mereka mempunyai karakter yang
berbeda satu anak dengan anak lainnya. Tapi bukan berarti kita sebagai guru
hanya diam ketika melihat anak kita selalu diam, tidak mau berinteraksi seperi
teman-temannya yang lain. Karena jika di biarkan maka akan berpegaruh terhadap
kemampuan belajarnya bahkan dalam kehidupan sosialnya.
Solusi/
strategi-strategi yang di gunakan agar anak yang pendiam mau bersosialisasi
dengan baik dengan anak-anak lainnya diantaranya yaitu :
1.
Mencarikan teman yang aktif
Di kelas para guru
sering mengatur posisi tempat duduk anak. Anak yang pendiam duduk di antara
anak yang banyak bicaranya. Atau pada saat main berdampingan atau kelompok,
anak yang pendiam digabungkan dengan anak yang aktif agar bisa memotifasi anak
yang pendiam. (dengan manajemen kelas)
2.
Sering-sering mengajak anak bicara santai (ngobrol santai).
Di sela-sela waktu kita
harus aktif mengajak anak bicara. Bicara tentang apa saja. Meskipu anak tidak
menjawab, terusalah berusaha. Bertanya tentang kagiatan di rumah, tentang
keluarga, makanan kesukaan dan sebagainya.
Mungkin awalnya cara
ini tidak berhasil. Tapi kita harus melakukanya lagi dan lagi. Mencoba lagi dan
lagi. Jika terlihat anak mulai mau tersenyum saat kita ajak bicara, maka itulah
awal keberhasilan kita. Artinya anak itu mulai nyaman. Berhentilah berbicara
sebelum anak bosan. Cobalah ajak bicara lagi di lain waktu mungkin dengan topik
yang berbeda pula.(melakukan pendekatan-pendekatan dalam manajemen kelas).
3.
Selalu memberi motivasi.
Mengeluarkan kata “Wah
ternyata kamu bisa ya…..” , “boleh di coba lagi lho…..”. kalimat ini adalah
salah satu cara untuk memotifasi anak
yang pendiam atau pasif dalam kegiatan di kelas agar mau melakukan atau
mengerjakan tugas yang diberikan. Lakukan hal ini di setiap anak selesai
melakukan tugas. Baik yang mudah sekalipun.Teruslah memberikan motifasi dengan kata-kata
dan kalimat positif lalu Minta anak untuk mencoba lagi dan berikan pujian
setelah anak menyelesaikan tugas yang kita berikan. (motivasi belajar).
4.
Memberikan hadiah
Tidak ada salahnya jika
kita sesekali memberikan hadiah kepada anak setelah anak berhasil melakukan apa
yang yang kita perintahkan. Hadiah yang kita tidak harus hadiah yang mahal.
Sebuah kalimat pujian juga bisa memotifasi anak. Memberikan hadiah sebaiknya
tidak terlalu sering. Karena jika kita selalu memberikan hadiah setiap setelah
anak menyelesaikan sesuatu, Juga akan berdampak kurang baik bagi anak. Karena
anak akan hanya mau menyelesaikan tugas jika mendapatkan hadiah, dan tidak mau
mnyelesaikan tugas jika tidak ada hadiah. Sebaiknya kita tidak menjanjikan
hadiah kepada anak sebelum anak menyelesaikan tugas. Berikan hadiah setelah
anak menyelesaikan tugas tanpa menjanjikan sebelumnya.
Daftar pustaka:
David A.Jacobsen. Paul Eggen. Donald Kauchak.
Methods
for Teaching: Metode-Metode Pengajaran Meningkatkan belajar siswa TK – SMA
(EDISI ke 8). Yogyakarta; Pusaka Pelajar. 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar