Rabu, 26 Desember 2018

Tugas uas belajar pembelajaran (pendidikan matematika)


KASUS 1_

MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA SEKOLAH DASAR
MELALUI  PROGRAM MEMBACA DI KELAS
Oleh :  Sarifah

Permasalahannya:
Membaca adalah hal yang sangat penting dalam memajukan setiap pribadi manusia maupun suatu bangsa. Dengan membaca, kita dapat memperluas wawasan dan mengetahui dunia. Namun sebuah persoalan membaca yang selalu mengemuka, terutama di kalangan pelajar, adalah bagaimana cara menimbulkan minat dan kebiasaan membaca. Banyak negara berkembang memiliki persoalan yang sama, yaitu kurangnya minat membaca di kalangan masyarakat
Dari pengamatan penulis di kelas ketika diberi pelajaran bahasa Indonesia khususnya membaca terlihat 50 % siswa tidak tertarik, acuh tak acuh, beberapa siswa selalu bercakap-cakap dengan teman sebangkunya, sebagian besar siswa gaduh, dan bacaan baru selesai dalam waktu yang cukup lama. Diajukan pertanyaan, semua diam, sibuk membaca kembali teks, jawaban siswa tidak mencapai sasaran. Ketika diberikan tes uraian siswa cenderung menjawab ngawur, tidak nyambung dengan yang ditanyakan.
Faktor Penyebabnya adalah:
Keterampilan membaca untuk memahami bentuk-bentuk tertulis merupakan hal yang mendasar dan sangat diperlukan siswa dalam kegiatan belajarnya. Kemampuan ini tidak hanya untuk mempelajari mata pelajaran yang bersifat eksak, mata pelajaran noneksak pun sangat memerlukannya.  Mata pelajaran noneksak pada umumnya disajikan secara ekspositoris dan panjang-panjang.
Bila siswa tidak mampu memahaminya secara baik, maka materi yang disajikan terasa berat dan efek lebih jauh muncul perasaan bosan untuk mempelajari materi-materi pelajaran. Minat baca siswa cenderung menurun, kegiatan membaca tidak variatif, tidak ada tindak lanjut atau hanya asal membaca, ruang baca/ perpustakaan terpisah dengan ruang kelas, buku yang tersedia tebal dan miskin ilustrasi.
Strategi untuk meningkatkan minat belajar siswa yaitu dengan menerapkan program membaca di kelas. Tiga Langkah Menerapkan Program Membaca di Kelas:
Program membaca di kelas dirancang dan disesuaikan dengan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktiftas yang dilakukan merangsang siswa berfikir tingkat tinggi. Alat peraga yang digunakan sederhana, mudah didapat dan dekat dengan lingkungan anak. Adapun bagaimana program dijalankan, dibawah ini secara rinci penulis sajikan secara urut.(manajemen kelas).
1. Tahap I  Mengenalkan buku.
Pada kegiatan ini siswa diajak mendiskusikan tentang prosedur perawatan buku. Kegiatan awal yang bisa melibatkan  siswa ketika sekolah  menerima atau membeli buku baru adalah iventarisasi, memberi sampul, membangun tata tertib, memecahkan masalah yang berkaitan dengan pelanggaran tata tertib, mempromosikan buku, melakukan survey awal minat membaca siswa, memulai membaca ringan dengan berpasangan dan mencoba meminjam buku bacaan dengan menulis buku pinjaman. (pengajaran langsung yang berpusat pada guru)

2. Tahap II Menggunakan buku–buku bacaan untuk diintegrasikan paga Kegiatan Pembelajaran dan Kegiatan Pembiasaan di Sekolah.
a.) Menggunakan buku – buku bacaan sebagai referensi dan penunjang materi pada kegiatan belajar mengajar
Pada kegiatan ini guru bersama siswa mengklasifikasi jenis buku – buku bacaan berdasarkan kelompok mata pelajaran diantarannya kelompok agama dan budhi pekerti, kelompok pengetahuan alam, kelompok sosial dan seni budaya, kelompok bahasa dan kelompok matematika.
Setelah selesai mengelompokkan kegiatan selanjutnya adalah menggunakan buku–buku tersebut untuk referensi pembelajaran dan menjadi materi pembahasan dalam diskusi–diskusi siswa selama proses kegiatan belajar mengajar. Siswa bisa menggunakan buku – buku sesuai dengan selera namun tetap pada kelompok mata pelajaran tertentu sesuai jadwal.
Agar kegiatan ini dapat membawa siswa dalam situasi belajar maka pembelajaran dirancang menggunakan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Perangkat pembelajaran harus dipersiapkan secara rinci, lengkap, murah, dekat dengan liongkungan dan menantang imajinasi siswa. Supaya bisa diukur keberhasilannya, setiap pembelajaran harus mengahsilkan produk belajar, meskipun tidak berupa nilai.
Implementasi pembelajaran dilaksanakan menggunakan skenario yang membuat siswa memncapai tingkat kognisi tertinggi yaitu tingkat menciptakan sejalan dengan teori belajat Taxonomi Bloom. Kognisi tingkatan tertinggi dalam kegiatan membaca adalah ketika siswa berhasil menciptakan bentuk atau sesuatu yang dapat ditunjukkan sebagai hasil karya tertinggi waktu selesai pembelajaran.
b.)  Menggunakan buku – buku bacaan untuk kegiatan pembiasaan di sekolah.
Kegiatan membaca bisa dibuat menjadi agenda rutin sekolah contohnya membaca hening berkesinambungan ( Sustained Silent Reading). Kegiatan ini bisa dilakukn satu atau dua kali dalam satu minggu. Waktu yang bisa dimanfaatkan misalnya setelah upacara bendera hari Senin atau setelah melakukan kegiatan senam pagi di sekolah. Waktu yang dibutuhkan 10 – 15 menit. Pelaksanaannya semua guru, kepala sekolah karyawan dan siswa melakukan kegiayan membaca bersama. Kegiatan ini orang tua siswa juga diminta untuk membangun kegiatan membaca dirumah. Jadwal kegiatan, jenis-jenis kegiatan yang diminta.
Kegiatan pembiasaan yang lain adalah terciptanya budaya piket mengelola perpustakaan mini didalam kelas. Kegiatan ini meliputi pelayanan kepada teman yang pinjam buku, pencatatan buku–buku administrasi perpustakaan, ketertiban menata buku–buku dan bertanggungjawab terhadap masalah – masalah tentang pengelolaan perpustakaan.
3.  Tahap III Menciptakan kegiatan membaca yang dapat meningkatkan kreatifitas siswa.
Membaca akan membosankan jika siswa tidak diberi tantangan, membaca juga akan lebih hidup jika selesai membaca siswa dapat menyimpulkan dan mewujudkan dari apa yang sudah dibaca. Untuk itu perlu diciptakan kegiatan membaca yang merangsang tumbuhnya  ide–ide siswa. Beberapa point yang harus di ingat adalah tujuan pengadaan buku di dalam kelas adalah untuk memberikan akses kepada siswa agar dapat membaca buku dengan mudah. Tentu saja hal ini banyak tantangannya. Sehingga sangat penting untuk selalu mengacu pada tata tertib penggunaan buku yang telah di bahas sebelumnya.
Kegiatan selanjutnya adalah melibatkan siswa untuk mengelola perpustakaan mini di dalam kelas. Kegiatan ini melibuti, inventarisasi buku, catatan peminjaman dan jurnal membaca harian. Yang tidak kalah penting adalah kegiatan piket kerja dalam mengelola perpustakaan.
Untuk lebih menguatkan budaya baca bagi siswa perlu kiranya melibatkan orang tua. Kegiatan tersebut bisa berupa  menciptakan budaya baca di rumah, mengadakan bazar buku, pameran buku, lomba – lomba yang berkaitan dengan program membaca.
Hasil yang dicapai dari penerapan program membaca di kelas
Dari hasil Penerapan program membaca di kelas kita dapat mengetahui dampak positif dalam meningkatkan minat membaca dan hasil belajar. Dari strategi-strategi di atas siswa dapat meningkatkan minat membacanya dan dapat mengembangkan apa saja yang di dapat dari hasil membacanya tersebut.


 KASUS 2_


Mengatasi Anak Pasif, Pendiam dan Sulit Bergaul
Oleh: sarifah
Permasalahannya:
Diantara kita mungkin ada yang mempunyai anak yang pasif, yang biasanya cenderung diam dan sulit bergaul dengan teman baik di sekolah atau di tempat baru.
Di salahsatu kelas, seorang anak yang jarang sekali terlihat main bareng, bercanda, atau lari-larian dengan teman lainya.  Sesekali ia hanya tersenyum ketika melihat temannya yang sedang asyik main. “Boleh ikut main lho kak…” kata guru yang pada saat itu berada di dekatnya. Anak itu hanya diam tidak menjawab. Begitu juga di kelas, ia jarang sekali bicara, hanya sesekali menjawab jika bu guru bertanya kepadanya, itupun dengan suara yang pelan dan seperti ragu-ragu.
Dalam waktu satu semester tidak banyak perubahan yang terlihat pada anak ini, namun  ibu guru tidak putus asa mencari tahu mengapa anak itu selalu diam jarang sekali bicara dan tidak mau main bareng dengan teman lainnya. Wajar seperti layaknya anak-anak yang lainnya.
Ibu guru selalu berusaha mencari cara bagaimana agar anak ini bisa seperti anak lainnya, yang bisa main bersama, bercanda, tertawa dan sebagainya. Ya kita tidak bisa pungkiri bahwa memang setiap anak itu berbeda, mereka mempunyai karakter yang berbeda satu anak dengan anak lainnya. Tapi bukan berarti kita sebagai guru hanya diam ketika melihat anak kita selalu diam, tidak mau berinteraksi seperi teman-temannya yang lain. Karena jika di biarkan maka akan berpegaruh terhadap kemampuan belajarnya bahkan dalam kehidupan sosialnya.



Solusi/ strategi-strategi yang di gunakan agar anak yang pendiam mau bersosialisasi dengan baik dengan anak-anak lainnya diantaranya yaitu :

1. Mencarikan teman yang aktif
Di kelas para guru sering mengatur posisi tempat duduk anak. Anak yang pendiam duduk di antara anak yang banyak bicaranya. Atau pada saat main berdampingan atau kelompok, anak yang pendiam digabungkan dengan anak yang aktif agar bisa memotifasi anak yang pendiam. (dengan manajemen kelas)

2. Sering-sering mengajak anak bicara santai (ngobrol santai).
Di sela-sela waktu kita harus aktif mengajak anak bicara. Bicara tentang apa saja. Meskipu anak tidak menjawab, terusalah berusaha. Bertanya tentang kagiatan di rumah, tentang keluarga, makanan kesukaan dan sebagainya.
Mungkin awalnya cara ini tidak berhasil. Tapi kita harus melakukanya lagi dan lagi. Mencoba lagi dan lagi. Jika terlihat anak mulai mau tersenyum saat kita ajak bicara, maka itulah awal keberhasilan kita. Artinya anak itu mulai nyaman. Berhentilah berbicara sebelum anak bosan. Cobalah ajak bicara lagi di lain waktu mungkin dengan topik yang berbeda pula.(melakukan pendekatan-pendekatan dalam manajemen kelas).

3. Selalu memberi motivasi.
Mengeluarkan kata “Wah ternyata kamu bisa ya…..” , “boleh di coba lagi lho…..”. kalimat ini adalah salah satu  cara untuk memotifasi anak yang pendiam atau pasif dalam kegiatan di kelas agar mau melakukan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Lakukan hal ini di setiap anak selesai melakukan tugas. Baik yang mudah sekalipun.Teruslah memberikan motifasi dengan kata-kata dan kalimat positif lalu Minta anak untuk mencoba lagi dan berikan pujian setelah anak menyelesaikan tugas yang kita berikan. (motivasi belajar).

4. Memberikan hadiah
Tidak ada salahnya jika kita sesekali memberikan hadiah kepada anak setelah anak berhasil melakukan apa yang yang kita perintahkan. Hadiah yang kita tidak harus hadiah yang mahal. Sebuah kalimat pujian juga bisa memotifasi anak. Memberikan hadiah sebaiknya tidak terlalu sering. Karena jika kita selalu memberikan hadiah setiap setelah anak menyelesaikan sesuatu, Juga akan berdampak kurang baik bagi anak. Karena anak akan hanya mau menyelesaikan tugas jika mendapatkan hadiah, dan tidak mau mnyelesaikan tugas jika tidak ada hadiah. Sebaiknya kita tidak menjanjikan hadiah kepada anak sebelum anak menyelesaikan tugas. Berikan hadiah setelah anak menyelesaikan tugas tanpa menjanjikan sebelumnya.




Daftar  pustaka:
David A.Jacobsen. Paul Eggen. Donald Kauchak. Methods for Teaching: Metode-Metode Pengajaran Meningkatkan belajar siswa TK – SMA (EDISI ke 8). Yogyakarta; Pusaka Pelajar. 2009
         





Tidak ada komentar:

Posting Komentar